F.D.E Schleiermacher: Sintesa antara kesalehan dan rasionalitas

F.D.E Schleiermacher: Sintesa antara kesalehan dan rasionalitas

Pengantar
Dalam sejarah kekristenan, telah muncul pemikir-pemikir Kristen (teolog) yang berusaha menerjemahkan firman Allah sesuai konteks jamannya. Dalam rangka studi teologi, penting kita mengetahui pemikiran-pemikiran  teolog kontemporer serta mengkritisinya secara cermat. Riwayat hidup dan  pemikiran teologi Friedrich Daniel Ernst Schleiermacher  akan diuraikan dalam makalah ini disertai catatan kritis dalam kaitan dengan realitas kehidupan bergereja di Indonesia.

Riwayat Hidup
Friedrich Daniel Ernst Schleiermacher dapat disebut sebagai bapak dari teologi modern atau bapak pendiri Protestantisme liberal dan seorang teolog terkemuka pada abad ke-19 dalam kalangan gereja reformatoris.  Schleiermacher lahir di Breslau yang sekarang ini terletak  di selatan Polandia pada 21 November 1768. Anak dari keluarga pendeta yang  dibesarkan dalam pietisme tradisi Spener dan masuk seminari teologi pietis.
Dari seminari Barby milik Persaudaraan Moravia, ia melanjutkan studinya di Universitas Halle pada tahun 1787 di mana karya-karya Imanuel  Kant dan Spinoza turut mempengaruhi cara berpikirnya. Tahun 1794, ditahbiskan menjadi pendeta dan bertugas di rumah sakit Kharitas, Berlin. Lima tahun lamanya menjadi mahaguru di Universitas Halle dan kemudian  menjadi mahaguru dan dekan fakultas teologi pada Universitas Berlin tahun 1809.  Pemikiran-pemikiran teologinya termuat dalam dua buku utamanya yaitu “On Religion: Speeches to its Cultural Despisers” (1799) dan “The Christian Faith” (1821-1822)..  Menikah dengan Henriette von Willich, ia sangat dihormati sehingga pada hari pemakamannya diperkirakan 20.000 sampai 30.000 pelayat dari berbagai profesi dan latar belakang hadir di Trinity Church, Berlin  pada tahun 1834.

1. Inti pergumulan Schleiermacher
Schleiermacher dibesarkan di tengah jaman Pencerahan (Age of reason/Enlightenment)  dan Romanticisme yang menjadikan manusia merasa otonom serta menolak campur tangan agama dan gereja dalam kehidupan manusia. Manusia percaya bahwa dengan akalnya mereka dapat memahami segala seusatu termasuk rahasia-rahasia alam, inti kebenaran ajaran moral bahkan agama. Pada masa itu, doktrin-doktrin Alkitab tentang hal-hal supranatural mendapat tantangan hebat dan gerakan anti-dogma menjalar kemana-mana sehingga keabsahan Alkitab maupun otoritas Gereja menghadapi penolakan yang semakin lama semakin terang-terangan. Schleiermacher mulai merasakan  bahwa rasionalisme itu sendiri tidak memberi jawab atas kebutuhan manusia, khususnya dalam pengalaman yang sejati dengan Allah. Sebagai murid Immanuel Kant, ia memahami bahwa betapa penjelasan rasionil tentang Allah merupakan hal yang tidak bakal diterima oleh manusia modern. Kalaupun Allah benar-benar telah memberikan penyingkapan diriNya pada manusia, tetap “pengalaman” tersebut tidak mungkin menjadi objek rasio manusia.  Jadi pengalaman dengan Allah  tak mungkin dapat dijelaskan secara rasionil.
Di sinilah Schleiermacher berusaha mencari titik temu atau sintesa antara kesalehan (agama)  dan rasionalitas (filsafat)  dengan konsep “feeling of absolute dependency”. Dengan pengaruh Romanticisme, Schleiermacher menyimpulkan bahwa  Allah hanya dapat menjadi objek dari kesadaran batin. Pengalaman yang sejati dengan Allah hanya dapat dialami dan dirasakan oleh manusia.

2. Doktrin tentang Agama dan Gereja
Schleiermacher menyadari bahwa konteks jamannya (rasionalisme dan romanticisme) memerlukan suatu rumusan agama Kristen yang baru. Ia tidak menggunakan tafsir biblis dan juga tidak mengambil filsafat dan akal sebagai dasar pembicaraannya mengenai agama. Teologi, menurutnya mulai dengan analisa diri sendiri yang dilakukan oleh orang yang (hendak) beriman.  Ia merasakan betapa pengalaman yang sejati tentang Allah ternyata tidak diperoleh manusia melalui “pemahaman rasionil atas formulasi-formulasi doktrin” atau melalui “keterlibatan dengan tingkah laku agama”, tetapi  pada pengalamanan batiniah dengan Allah. Inti agama sejati terletak pada konsep “feeling of absolute dependency”.
Esensi agama Kristen menurutnya adalah iman yang monoteistik dan berbeda dengan agama lain karena fakta karya penebusan Yesus dari Nazareth sehingga dalam tingkatan agama maka agama Kristen berada dalam kedudukan yang paling tertinggi dibanding semua agama lain. Jadi agama Kristen menjadi agama yang  paling tertinggi (the highest religion) karena (1) monoteisme etis bahwa Allah memberikan hukum dan menunjukkan tujuan utama yang harus dicapai manusia, dan (2) kepastian keselamatan dalam Yesus dari Nazareth yang memiliki kesadaran tentang Allah yang sempurna sehingga Dia tidak membutuhkan keselamatan, melainkan menjadi Juruselamat. Jelas dalam sejarah manusia, agama Kristen adalah agama yang terbaik dari semua agama yang lain. Gereja bagi Schleiermacher memiliki keunikan tersendiri yang terletak dalam misinya memberitakan “jalan keselamatan yang sejati” yaitu pemenuhan  kesadaran Allah didalam Kristus (God-consciousness in Christ). Tugas ini hanya dimiliki oleh gereja.

3.  Doktrin tentang Allah
Schleiermacher merasakan betapa pemahaman gereja tentang Allah yang “transcendent” dan sekaligus juga “immanent” sukar dipahami sehingga terasa adanya “kekosongan” sebab pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab. Jelas kita tidak mempunyai pengetahuan obyektif tentang Allah. Kita dapat mengetahui Allah dalam hubungan dengan diri kita sendiri, dalam perasaan kebergantungan yang mutlak kepadaNya dan dalam hubungan dengan alam semesta.  Allah adalah kekal, maha hadir, maha kuasa dalam arti bahwa Ia dapat berbuat apa saja yang dikehendakiNya. Allah adalah Pencipta dan mengetahui segala sesuatu.
Schleiermacher berpendapat pengalaman sejati  dengan   Allah   dapat    dialami      melalui  “feeling of absolute dependency.” Yang dirumuskan sebagai suatu momentum pengalaman dengan Allah  yang manusia alami saat: (1) manusia secara tulus menyadari akan dosanya dan rindu diperdamaikan dengan Allah dan (2) tidak terjerat lagi dengan  kedagingannya.     “Perasaan ketergantungan mutlak kepada Allah” merupakan anugerah umum (natural gift) dan satu-satunya sarana agar manusia dapat mempunyai pengalaman yang sejati dengan Allah  melalui “exercise feeling of absolute dependency”, yaitu melatih kepekaan akan kehadiran dan ketergantungan pada Allah melalui hati nurani yang tulus dan bersih.
Saat manusia dihina dan dikhianati sesamanya, misalnya,  manusia mempunyai dua pilihan: (1) memakai feeling dan emosinya melampiaskan kemarahan, kebencian dan pembalasan dendam, atau (2) memakai “feeling of absolute dependency” untuk mencari hadirat Allah dengan mematikan kebencian dan belajar mengasihi dan mengampuni dengan tulus hati. Cara  kedua ini akan memberikan manusia pengalaman sejati dengan Allah. Dua cara yang dapat dipakai melatih kerja dan kepekaan dari “perasaan ketergantungan mutlak kepada Allah”, yaitu (1) dengan “kesadaran akan dosa dan kehausan untuk diperdamaikan dengan  Allah” (consciousness of sin and redemption) sebagaimana contoh di atas; dan (2) melalui “berdiam diri dan ketenangan” (quietness and tranquility) yaitu pengalaman mistik dengan kehadiran Allah melalui meditasi.
Schleiermacher percaya bahwa pengalaman  yang sejati dengan Allah juga ditandai dengan munculnya perasaan “kehangatan kasih,” “spontanitas/tidak dibuat-buat,” dan “keterlibatan pribadi secara penuh” yang dapat dialami jika manusia mempraktekkan kasih secara tulus terhadap sesamanya. Pada saat manusia benar-benar mengasihi sesamanya, ia akan merasa bahagia dan saat itu adalah momen perjumpaan dengan Allah. Perbuatan kasih itu juga  yang menyatukan seluruh umat manusia di seluruh dunia, karena hanya melalui kesadaran akan realita adanya “tali” (kehadiran Allah) yang menyatakan manusia dengan sesamanya, maka itulah  jalan untuk menemukan “the true individuality” (penemuan diri yang seutuhnya) terbuka. Jadi ada hubungan  yang erat antara “the true individuality” (yang ditemukan melalui pengalaman kasih  yang sejati) dan pengalaman dengan kehadiran Allah dalam hidup manusia.

4. Doktrin tentang Kristus
Yesus Kristus adalah  manusia unik sebab dikuasai kesadaran akan Allah  yang belum pernah  dimiliki seorang manusiapun. KesempurnaanNya  hanya mungkin karena kehadiran Allah dalam diriNya sejak lahirnya, karena itu Kristus  adalah manusia dan Ilahi. Yesus Kristus adalah “the Archetypal of God-consciousness,” yaitu manusia yang secara khusus disediakan Allah menjadi model bagaimana manusia seharusnya menghidupi “kesadaran tentang Allah” secara tepat. Keselamatan yang sejati bukan terjadi  oleh karena iman kepada kematian Kristus yang menggantikan kematian manusia, melainkan dalam pengalaman hidup dengan “kesadaran tentang Allah” seperti Kristus, yang mungkin akan menuju pada puncak manifestasi “kesadaran tentang Allah”, yaitu kerelaan mati sama seperti Kristus.
“Kesadaran tentang Allah” di dalam Kristus secara terus menerus memperluas otoritasnya dan membuktikan kekuatannya untuk membawa perdamaian dan kebahagiaan kepada manusia. Keselamatan dalam Kristus terjadi oleh karena ia dapat menjadi penebus manusia melalui jalan: (1) sharing atau mengambil bagian dalam setiap kondisi kehidupan manusia dimana pengalamannya bisa menjadi pengalaman kita,  dan (2) assuming atau melibatkan manusia dengan kehidupan dalam “pengalaman kesadaran Yesus tentang Allah” yang sempurna sehingga menolong manusia mengambil bagian dalam pengalaman tersebut. Lebih lanjut, Schleiermacher memahami Roh Kudus sebagai kesadaran  Allah dalam Yesus Kristus yang bekerja dalam persekutuan  orang-orang percaya, yaitu Gereja Kristus.
Kita     tidak perlu menurutnya,  mempercayai doktrin tentang kebangkitan, kenaikan dan kedatanganNya kembali. Percaya akan doktrin-doktrin ini bukanlah unsur yang berdiri sendiri dalam iman asli kepada Yesus Kristus. Artinya, tidak perlu, demi kita dapat menerima Dia sebagai Penebus atau melihat keberadaan Allah di dalam diriNya, untuk kita tahu bahwa Ia telah bangkit dari antara orang mati dan naik ke Sorga atau Ia berjanji akan kembali untuk menghakimi. Schleiermacher percaya bahwa Yesus yang ideal ini cukup membuktikan Yesus yang historis itu dan ia tidak perlu melihat di balik kitab-kitab Injil guna mengukuhkan pandangan teologinya ini.

5. Doktrin tentang Dosa dan Penebusan
Pada mulanya dunia dan manusia yang diciptakan Allah adalah baik. Dosa adalah kebergantungan manusia pada dirinya sendiri dan mencari kepuasan bagi dirinya dan bukan kepada Allah. Dosa bukan semata-mata berasal dari tindakan individual tetapi sesuatu kecenderungan yang tidak dapat dilepaskan dari seluruh manusia.     Manusia berdosa karena dosa asal (sinful nature) yang bercampur dengan kuasa kedagingan dalam diri manusia sedemikian kuat sebelum kesadaran rohaninya berkembang (spiritual consciousness have developed). Keinginan baik manusia dilumpuhkan oleh kuasa kedagingannya.
Setiap individu tidak mungkin dapat benar-benar mengenal Allah tanpa penebusan Kristus.  Dalam ketakutan terhadap penghakiman  Allah, terjadilah pengalaman penebusan yang merupakan bagian tak terpisahkan dari rencana penciptaanNya. Dalam penebusan nampaklah kasih dan hikmah Allah. Penebusan itu hanyalah melalui anugerah dalam Yesus Kristus dan bahwa dalam Yesus Kristus manusia mencapai hakekat kemanusiaannya.
Karena Yesus Kristus adalah manusia yang sempurna, maka hal itu memungkinkan manusia  untuk bersekutu dengan Dia dan dosa dalam mereka  dikalahkan oleh kesadaran tentang Allah yang sedang bekerja dalam mereka. Jelas Yesus Kristus tidak datang untuk menebus dosa kita tetapi untuk menjadi guru kita, menjadi teladan kita. Karya keselamatanNya  pada hakikatnya dimaksudkan untuk membangkitkan di dalam diri kita kesadaran ini, yang di dalam diri kita terselubung dan tak berdaya, sehingga di dalam Yesus Kristus ia sempurna setiap saat. Kesadaran ini dibuatnya menjadi “suatu kehadiran yang terus menerus hidup, malah suatu keberadaan yang sungguh-sungguh dari Allah di dalam diriNya”. ia  berbeda dari manusia lain hanya karena pada hakikatnya Kristus tanpa dosa dan sempurna sepenuhnya.

6. Doktrin tentang Alkitab
Berdasarkan pengalaman batiniah ini dapat dibuat doktrin-doktrin Kristen yang statusnya bersifat sekunder. Karenanya doktrin-doktrin Kristen dimengerti sebagai  laporan tentang perasaan-perasaan  keagamaan Kristen  dalam bentuk perkataan. Pernyataan-pernyataan tentang sifat-sifat Allah, misalnya, bukan mengenai Allah sendiri, tetapi mengenai  cara bagaimana perasaan ketergantungan kita yang mutlak harus dihubungkan dengan Dia. Alkitab lebih diperlakukan sebagai riwayat pengalaman religius manusia daripada sebagai penyataan dari Allah ataupun riwayat tentang tindakan-tindakan Allah dalam sejarah.  Teologi karenanya harus sesuai bukan dengan doktrin Perjanjian Baru melainkan dengan pengalaman-pengalaman yang dicatat dalam Perjanjian Baru.

Refleksi: Menjadi saleh dan penuh hikmat
Teologi Schleiermacher patut diapresiasi dan dikritisi dengan cermat sehingga kita dapat menarik manfaat dari teologinya dan bagaimana seharusnya menghadapi ketegangan sebagai manusia yang beriman/saleh dan sekaligus rasional.
Pertama. Saya dapat mengerti dan memahami  bahwa pemikiran teologi Schleiermacher tentang  “feeling of absolute dependency” atau “perasaan ketergantungan mutlak kepada Allah” muncul sebagai jawaban terhadap pengaruh rasionalitas yang mempertanyakan arti dan makna kekristenan dalam hidup manusia modern. Memang dengan teologi ini,  seseorang dapat secara bebas meningkatkan kemampuan menafsirkan Alkitab sesuai dengan pengalaman imannya dan tidak lagi terbelenggu dalam doktrin-doktrin Kristen yang ketat. Yesus Kristus menjadi lebih dipahami secara personal, karena “perasaan ketergantungan mutlak” untuk mengalami kehadiran Allah sama seperti Kristus sehingga orang dapat terhindar dari bahaya kemunafikan dan legalisme. Walaupun kelihatannya baik dan positip, teologi ini berbahaya sebab fungsi dan peranan  Alkitab berada di bawah pengalaman manusia sehingga Alkitab kehilangan kontrolnya atas hidup manusia.  Jelas saya menolak teologi ini jika pada akhirnya kewibawaan Alkitab berada di bawah otoritas manusia yang sewenang-wenang dengan akal budinya tanpa perlu mengandalkan bimbingan kuasa Roh Kudus.
Kedua. Akibat keinginan kuat untuk menyelaraskan iman dan akal, Schleiermacher telah membongkar total doktrin Trinitas dan karya keselamatan Allah dalam Yesus bagi manusia. Teologinya tidak lagi berakar pada sumber Alkitab yang berwibawa melainkan pada pengalaman batin manusia yang tentunya telah dikuasai dosa sebagaimana dicatat dalam surat Roma 7:18, 20 “sebab Aku tahu bahwa di dalam aku , yaitu di dalam aku sebagai manusia  tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada  di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik … Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki , maka bukan  lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku”. Untuk dapat memahami Allah dalam kekristenan letaknya bukan pada perasaan manusia dan juga bukan pada kepandaiannya melainkan pada kesatuan hati, jiwa dan akal budi manusia  dalam melakukan kehedak Allah. (Matius 22:37-40) Dapat dikatakan bahwa dalam hal ini teologi  Schleiermacher telah menjadi antropologi sebab pemahaman tentang Allah, Yesus dan Roh Kudus sama sekali berbeda dan bertolak belakang  dengan kesaksian Alkitab.  Jadi saya menolak jika teologi hanya berisi pengalaman-pengalaman manusia yang mutlak tentang Allah.
Ketiga. Schleiermacher sama sekali tidak memberi tempat khusus pada fakta salib dan pengharapan kebangkitan Kristus  yang merupakan dasar utama kesaksian Perjanjian Baru. Tanpa fakta kematian dan kebangkitan Kristus, maka sia-sialah kepercayaan kita  kepada Yesus dan berarti kita masih hidup di dalam dosa (Lihat. 1 Kor. 15:17) Kematian dan kebangkitan Kristus merupakan dua fakta iman yang saling terkait erat sehingga kita mengimaninya sebagai kejadian historis yang membuat kita berpengharapan serta menjamin kebangkitan kita pada akhir jaman. Saya menolak tegas jika Kekristenan tidak berbicara tentang Salib dan kebangkitan Kristus sebab inilah hakikat utama hidup kekristenan yang kita jalani selama ini berdasarkan kesaksian Alkitab.
Keempat, Schleiermacher dengan tegas mengatakan kesempurnaan Yesus dalam “pengalaman kesadaran tentang Allah” telah menempatkan Kekristenan sebagai agama terbaik atau agama paling tertinggi dibandingkan agama-agama lainnya. Pandangan Schleiermacher ini merupakan keyakinan imannya tentang arti kekristenan dalam hidup manusia dan menurut saya patut dicontoh oleh umat Kristen di Indonesia agar kita sebagai umat kristiani tetap setia dan teguh dalam mengimani dan mengikuti Yesus.  Secara pribadi, saya pun pasti menempatkan Yesus dan kekristenan sebagai yang utama dibanding agama dan kepercayaan lainnya. Sikap eksklusif  semacam ini dapat dibenarkan dan turut meneguhkan komitmen iman kristiani kita dalam mengikut Yesus serta mempraktekkan  kasih Allah kepada sesama. Sikap eksklusif ini bukan berarti sikap bermusuhan terhadap penganut agama dan keyakinan lain. Sikap eksklusif harus juga dibarengi dengan sikap keterbukaan terhadap umat beragama lain sebagai saudara-saudari yang diciptakan Allah Bapa. Jadi, kita harus dapat membangun dialog, toleransi dan kerukunan dalam masyarakat majemuk tanpa kehilangan identitas kristiani kita.
Sebagai  Gereja, tentunya  dalam berinteraksi dengan mereka yang berbeda keyakinan kita harus saling mendengar dan menghargai semua pendapat dari pelbagai keyakinan yang ada agar dapat diperoleh saling pengertian yang mendalam guna menangani masalah bersama bangsa ini, seperti  penanggulangan kemiskinan atau bencana alam. Bersama seluruh komponen bangsa, kita  berusaha mencegah konflik horisontal yang hanya mengakibatkan penderitaan dan hancurnya peradaban bangsa kita dan memajukan keadilan dan kedamaian demi kemanusiaan yang bermartabat.
Berdasarkan semua uraian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: (1) Schleiermacher berusaha mencari sintesa antara kesalehan dan rasionalitas dengan menawarkan pemikiran teologi tentang “ketergantungan mutlak kepada Allah” di mana perasaan batiniah manusia menjadi pokok utamanya. Dengan cara ini manusia rasional dapat menghayati Kekristenan sebagai agama yang dapat memberikan jawaban dan menjadi agama terbaik di antara semua agama yang ada; (2) Dalam pengalaman batiniah itu, manusia dapat mengetahui sifat-sifat Allah dan menjalin hubungan yang harmonis dengan  Allah melalui hati nurani yang tulus dan bersih serta praktek kasih terhadap sesama manusia; dan (3) Yesus menjadi model yang disediakan Allah tentang bagaimana seharusnya menghidupi “ketergantungan mutlak  kepada Allah,” sehingga tugas Yesus bukan menebus dosa manusia melainkan sebagai guru dan teladan kita.
Dengan mencermati semua pemikiran teologi Schleiermacher, saya berpendapat bahwa teologi semacam ini tidak dibutuhkan sebab dapat mengakibatkan keresahan bagi warga jemaat kita dan dapat merusak teologi Gereja. Teologi Schleiermacher ini hanya cocok dan tepat bagi masyarakat Barat yang rasional dan individual dan hanya bermanfaat memperkaya pengetahuan dan wawasan teologi kita.
Pelajaran positif yang dapat kita terima bahwa kita pada waktunya pasti menghadapi masalah tentang sejauh mana doktrin Alkitab dan teologi Gereja dapat dipahami oleh manusia yang rasional (warga jemaat) karena perkembangan dan kemajuan iptek. Menghadapi rasionalisme di kalangan warga jemaat, Gereja harus bersungguh-sungguh dalam tugasnya, seperti  penelaahan Alkitab dan pembinaan iman. Selain itu penting, Gereja melibatkan warga jemaatnya untuk terlibat dan mengambil prakarsa dalam aksi kemanusiaan dan mengembangkan sikap dialogis terhadap umat beragama lainnya dalam tingkat nasional dan regional.
———————–SGRS2008—————————–
DAFTAR PUSTAKA
Aritonang, Jan S. Sejarah perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia, Jakarta: Gunung Mulia, 2004.
Ferguson, Sinclair B.  &  Wright, David F,   New Dictionary of Theology, England:  Inter-Varsity Press, 1988.
Hadiwijono, Harun. Iman Kristen, cet. ke-6.  Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1988.
Hadiwijono, Harun Teologi Reformatoris abad ke-20, cetakan ke-3, Jakarta: Gunung Mulia, 1993.
Kung, Hans Great christian thinkers, London: SCM Press Ltd, 1994.
Lane, Tony Runtut pijar: sejarah pemikiran kristiani, diterjemahkan oleh Cony Item-Corputy, cetakan ke-3, Jakarta: Gunung Mulia, 1996.
Steenbrink, Karel A.  Perkembangan teologi dalam dunia kristen modern, Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press,1987.
Smith, Wilfred Cantwell “Pemberhalaan dalam perspektif perbandingan”, dalam Hick, Jhon dan Knitter, Paul F. Mitos Keunikan Agama Kristen,  Jakarta: Gunung Mulia, 2001.
Susabda, Yakub B. Teologi Modern, cetakan ke-3, Surabaya: Pusat Literatur Kristen Momentum Lembaga Reformed Injili Indonesia, 2001.
Sykes, Stephen Friedrich Schleiermacher,  Virginia: John Knox Press,1971.
Tillich, Paul A history of christian thought: from its judaic and hellenistic origins to existentialism, New York: A Touchstone Book, 1968.
Urban, Linwood Sejarah ringkas pemikiran kristen, diterjemahkan oleh     Liem Sien Kie,  Jakarta: Gunung Mulia, 2003.
Willem, F.D. Riwayat hidup singkat tokoh-tokoh dalam sejarah gereja,     Jakarta: Gunung Mulia, 1987.

~ by sgrsihombing on February 8, 2008.

Leave a Reply