F.D.E Schleiermacher: Sintesa antara kesalehan dan rasionalitas

•February 8, 2008 • Leave a Comment
F.D.E Schleiermacher: Sintesa antara kesalehan dan rasionalitas

Pengantar
Dalam sejarah kekristenan, telah muncul pemikir-pemikir Kristen (teolog) yang berusaha menerjemahkan firman Allah sesuai konteks jamannya. Dalam rangka studi teologi, penting kita mengetahui pemikiran-pemikiran  teolog kontemporer serta mengkritisinya secara cermat. Riwayat hidup dan  pemikiran teologi Friedrich Daniel Ernst Schleiermacher  akan diuraikan dalam makalah ini disertai catatan kritis dalam kaitan dengan realitas kehidupan bergereja di Indonesia.

Riwayat Hidup
Friedrich Daniel Ernst Schleiermacher dapat disebut sebagai bapak dari teologi modern atau bapak pendiri Protestantisme liberal dan seorang teolog terkemuka pada abad ke-19 dalam kalangan gereja reformatoris.  Schleiermacher lahir di Breslau yang sekarang ini terletak  di selatan Polandia pada 21 November 1768. Anak dari keluarga pendeta yang  dibesarkan dalam pietisme tradisi Spener dan masuk seminari teologi pietis.
Dari seminari Barby milik Persaudaraan Moravia, ia melanjutkan studinya di Universitas Halle pada tahun 1787 di mana karya-karya Imanuel  Kant dan Spinoza turut mempengaruhi cara berpikirnya. Tahun 1794, ditahbiskan menjadi pendeta dan bertugas di rumah sakit Kharitas, Berlin. Lima tahun lamanya menjadi mahaguru di Universitas Halle dan kemudian  menjadi mahaguru dan dekan fakultas teologi pada Universitas Berlin tahun 1809.  Pemikiran-pemikiran teologinya termuat dalam dua buku utamanya yaitu “On Religion: Speeches to its Cultural Despisers” (1799) dan “The Christian Faith” (1821-1822)..  Menikah dengan Henriette von Willich, ia sangat dihormati sehingga pada hari pemakamannya diperkirakan 20.000 sampai 30.000 pelayat dari berbagai profesi dan latar belakang hadir di Trinity Church, Berlin  pada tahun 1834.

1. Inti pergumulan Schleiermacher
Schleiermacher dibesarkan di tengah jaman Pencerahan (Age of reason/Enlightenment)  dan Romanticisme yang menjadikan manusia merasa otonom serta menolak campur tangan agama dan gereja dalam kehidupan manusia. Manusia percaya bahwa dengan akalnya mereka dapat memahami segala seusatu termasuk rahasia-rahasia alam, inti kebenaran ajaran moral bahkan agama. Pada masa itu, doktrin-doktrin Alkitab tentang hal-hal supranatural mendapat tantangan hebat dan gerakan anti-dogma menjalar kemana-mana sehingga keabsahan Alkitab maupun otoritas Gereja menghadapi penolakan yang semakin lama semakin terang-terangan. Schleiermacher mulai merasakan  bahwa rasionalisme itu sendiri tidak memberi jawab atas kebutuhan manusia, khususnya dalam pengalaman yang sejati dengan Allah. Sebagai murid Immanuel Kant, ia memahami bahwa betapa penjelasan rasionil tentang Allah merupakan hal yang tidak bakal diterima oleh manusia modern. Kalaupun Allah benar-benar telah memberikan penyingkapan diriNya pada manusia, tetap “pengalaman” tersebut tidak mungkin menjadi objek rasio manusia.  Jadi pengalaman dengan Allah  tak mungkin dapat dijelaskan secara rasionil.
Di sinilah Schleiermacher berusaha mencari titik temu atau sintesa antara kesalehan (agama)  dan rasionalitas (filsafat)  dengan konsep “feeling of absolute dependency”. Dengan pengaruh Romanticisme, Schleiermacher menyimpulkan bahwa  Allah hanya dapat menjadi objek dari kesadaran batin. Pengalaman yang sejati dengan Allah hanya dapat dialami dan dirasakan oleh manusia.

2. Doktrin tentang Agama dan Gereja
Schleiermacher menyadari bahwa konteks jamannya (rasionalisme dan romanticisme) memerlukan suatu rumusan agama Kristen yang baru. Ia tidak menggunakan tafsir biblis dan juga tidak mengambil filsafat dan akal sebagai dasar pembicaraannya mengenai agama. Teologi, menurutnya mulai dengan analisa diri sendiri yang dilakukan oleh orang yang (hendak) beriman.  Ia merasakan betapa pengalaman yang sejati tentang Allah ternyata tidak diperoleh manusia melalui “pemahaman rasionil atas formulasi-formulasi doktrin” atau melalui “keterlibatan dengan tingkah laku agama”, tetapi  pada pengalamanan batiniah dengan Allah. Inti agama sejati terletak pada konsep “feeling of absolute dependency”.
Esensi agama Kristen menurutnya adalah iman yang monoteistik dan berbeda dengan agama lain karena fakta karya penebusan Yesus dari Nazareth sehingga dalam tingkatan agama maka agama Kristen berada dalam kedudukan yang paling tertinggi dibanding semua agama lain. Jadi agama Kristen menjadi agama yang  paling tertinggi (the highest religion) karena (1) monoteisme etis bahwa Allah memberikan hukum dan menunjukkan tujuan utama yang harus dicapai manusia, dan (2) kepastian keselamatan dalam Yesus dari Nazareth yang memiliki kesadaran tentang Allah yang sempurna sehingga Dia tidak membutuhkan keselamatan, melainkan menjadi Juruselamat. Jelas dalam sejarah manusia, agama Kristen adalah agama yang terbaik dari semua agama yang lain. Gereja bagi Schleiermacher memiliki keunikan tersendiri yang terletak dalam misinya memberitakan “jalan keselamatan yang sejati” yaitu pemenuhan  kesadaran Allah didalam Kristus (God-consciousness in Christ). Tugas ini hanya dimiliki oleh gereja.

3.  Doktrin tentang Allah
Schleiermacher merasakan betapa pemahaman gereja tentang Allah yang “transcendent” dan sekaligus juga “immanent” sukar dipahami sehingga terasa adanya “kekosongan” sebab pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab. Jelas kita tidak mempunyai pengetahuan obyektif tentang Allah. Kita dapat mengetahui Allah dalam hubungan dengan diri kita sendiri, dalam perasaan kebergantungan yang mutlak kepadaNya dan dalam hubungan dengan alam semesta.  Allah adalah kekal, maha hadir, maha kuasa dalam arti bahwa Ia dapat berbuat apa saja yang dikehendakiNya. Allah adalah Pencipta dan mengetahui segala sesuatu.
Schleiermacher berpendapat pengalaman sejati  dengan   Allah   dapat    dialami      melalui  “feeling of absolute dependency.” Yang dirumuskan sebagai suatu momentum pengalaman dengan Allah  yang manusia alami saat: (1) manusia secara tulus menyadari akan dosanya dan rindu diperdamaikan dengan Allah dan (2) tidak terjerat lagi dengan  kedagingannya.     “Perasaan ketergantungan mutlak kepada Allah” merupakan anugerah umum (natural gift) dan satu-satunya sarana agar manusia dapat mempunyai pengalaman yang sejati dengan Allah  melalui “exercise feeling of absolute dependency”, yaitu melatih kepekaan akan kehadiran dan ketergantungan pada Allah melalui hati nurani yang tulus dan bersih.
Saat manusia dihina dan dikhianati sesamanya, misalnya,  manusia mempunyai dua pilihan: (1) memakai feeling dan emosinya melampiaskan kemarahan, kebencian dan pembalasan dendam, atau (2) memakai “feeling of absolute dependency” untuk mencari hadirat Allah dengan mematikan kebencian dan belajar mengasihi dan mengampuni dengan tulus hati. Cara  kedua ini akan memberikan manusia pengalaman sejati dengan Allah. Dua cara yang dapat dipakai melatih kerja dan kepekaan dari “perasaan ketergantungan mutlak kepada Allah”, yaitu (1) dengan “kesadaran akan dosa dan kehausan untuk diperdamaikan dengan  Allah” (consciousness of sin and redemption) sebagaimana contoh di atas; dan (2) melalui “berdiam diri dan ketenangan” (quietness and tranquility) yaitu pengalaman mistik dengan kehadiran Allah melalui meditasi.
Schleiermacher percaya bahwa pengalaman  yang sejati dengan Allah juga ditandai dengan munculnya perasaan “kehangatan kasih,” “spontanitas/tidak dibuat-buat,” dan “keterlibatan pribadi secara penuh” yang dapat dialami jika manusia mempraktekkan kasih secara tulus terhadap sesamanya. Pada saat manusia benar-benar mengasihi sesamanya, ia akan merasa bahagia dan saat itu adalah momen perjumpaan dengan Allah. Perbuatan kasih itu juga  yang menyatukan seluruh umat manusia di seluruh dunia, karena hanya melalui kesadaran akan realita adanya “tali” (kehadiran Allah) yang menyatakan manusia dengan sesamanya, maka itulah  jalan untuk menemukan “the true individuality” (penemuan diri yang seutuhnya) terbuka. Jadi ada hubungan  yang erat antara “the true individuality” (yang ditemukan melalui pengalaman kasih  yang sejati) dan pengalaman dengan kehadiran Allah dalam hidup manusia.

4. Doktrin tentang Kristus
Yesus Kristus adalah  manusia unik sebab dikuasai kesadaran akan Allah  yang belum pernah  dimiliki seorang manusiapun. KesempurnaanNya  hanya mungkin karena kehadiran Allah dalam diriNya sejak lahirnya, karena itu Kristus  adalah manusia dan Ilahi. Yesus Kristus adalah “the Archetypal of God-consciousness,” yaitu manusia yang secara khusus disediakan Allah menjadi model bagaimana manusia seharusnya menghidupi “kesadaran tentang Allah” secara tepat. Keselamatan yang sejati bukan terjadi  oleh karena iman kepada kematian Kristus yang menggantikan kematian manusia, melainkan dalam pengalaman hidup dengan “kesadaran tentang Allah” seperti Kristus, yang mungkin akan menuju pada puncak manifestasi “kesadaran tentang Allah”, yaitu kerelaan mati sama seperti Kristus.
“Kesadaran tentang Allah” di dalam Kristus secara terus menerus memperluas otoritasnya dan membuktikan kekuatannya untuk membawa perdamaian dan kebahagiaan kepada manusia. Keselamatan dalam Kristus terjadi oleh karena ia dapat menjadi penebus manusia melalui jalan: (1) sharing atau mengambil bagian dalam setiap kondisi kehidupan manusia dimana pengalamannya bisa menjadi pengalaman kita,  dan (2) assuming atau melibatkan manusia dengan kehidupan dalam “pengalaman kesadaran Yesus tentang Allah” yang sempurna sehingga menolong manusia mengambil bagian dalam pengalaman tersebut. Lebih lanjut, Schleiermacher memahami Roh Kudus sebagai kesadaran  Allah dalam Yesus Kristus yang bekerja dalam persekutuan  orang-orang percaya, yaitu Gereja Kristus.
Kita     tidak perlu menurutnya,  mempercayai doktrin tentang kebangkitan, kenaikan dan kedatanganNya kembali. Percaya akan doktrin-doktrin ini bukanlah unsur yang berdiri sendiri dalam iman asli kepada Yesus Kristus. Artinya, tidak perlu, demi kita dapat menerima Dia sebagai Penebus atau melihat keberadaan Allah di dalam diriNya, untuk kita tahu bahwa Ia telah bangkit dari antara orang mati dan naik ke Sorga atau Ia berjanji akan kembali untuk menghakimi. Schleiermacher percaya bahwa Yesus yang ideal ini cukup membuktikan Yesus yang historis itu dan ia tidak perlu melihat di balik kitab-kitab Injil guna mengukuhkan pandangan teologinya ini.

5. Doktrin tentang Dosa dan Penebusan
Pada mulanya dunia dan manusia yang diciptakan Allah adalah baik. Dosa adalah kebergantungan manusia pada dirinya sendiri dan mencari kepuasan bagi dirinya dan bukan kepada Allah. Dosa bukan semata-mata berasal dari tindakan individual tetapi sesuatu kecenderungan yang tidak dapat dilepaskan dari seluruh manusia.     Manusia berdosa karena dosa asal (sinful nature) yang bercampur dengan kuasa kedagingan dalam diri manusia sedemikian kuat sebelum kesadaran rohaninya berkembang (spiritual consciousness have developed). Keinginan baik manusia dilumpuhkan oleh kuasa kedagingannya.
Setiap individu tidak mungkin dapat benar-benar mengenal Allah tanpa penebusan Kristus.  Dalam ketakutan terhadap penghakiman  Allah, terjadilah pengalaman penebusan yang merupakan bagian tak terpisahkan dari rencana penciptaanNya. Dalam penebusan nampaklah kasih dan hikmah Allah. Penebusan itu hanyalah melalui anugerah dalam Yesus Kristus dan bahwa dalam Yesus Kristus manusia mencapai hakekat kemanusiaannya.
Karena Yesus Kristus adalah manusia yang sempurna, maka hal itu memungkinkan manusia  untuk bersekutu dengan Dia dan dosa dalam mereka  dikalahkan oleh kesadaran tentang Allah yang sedang bekerja dalam mereka. Jelas Yesus Kristus tidak datang untuk menebus dosa kita tetapi untuk menjadi guru kita, menjadi teladan kita. Karya keselamatanNya  pada hakikatnya dimaksudkan untuk membangkitkan di dalam diri kita kesadaran ini, yang di dalam diri kita terselubung dan tak berdaya, sehingga di dalam Yesus Kristus ia sempurna setiap saat. Kesadaran ini dibuatnya menjadi “suatu kehadiran yang terus menerus hidup, malah suatu keberadaan yang sungguh-sungguh dari Allah di dalam diriNya”. ia  berbeda dari manusia lain hanya karena pada hakikatnya Kristus tanpa dosa dan sempurna sepenuhnya.

6. Doktrin tentang Alkitab
Berdasarkan pengalaman batiniah ini dapat dibuat doktrin-doktrin Kristen yang statusnya bersifat sekunder. Karenanya doktrin-doktrin Kristen dimengerti sebagai  laporan tentang perasaan-perasaan  keagamaan Kristen  dalam bentuk perkataan. Pernyataan-pernyataan tentang sifat-sifat Allah, misalnya, bukan mengenai Allah sendiri, tetapi mengenai  cara bagaimana perasaan ketergantungan kita yang mutlak harus dihubungkan dengan Dia. Alkitab lebih diperlakukan sebagai riwayat pengalaman religius manusia daripada sebagai penyataan dari Allah ataupun riwayat tentang tindakan-tindakan Allah dalam sejarah.  Teologi karenanya harus sesuai bukan dengan doktrin Perjanjian Baru melainkan dengan pengalaman-pengalaman yang dicatat dalam Perjanjian Baru.

Refleksi: Menjadi saleh dan penuh hikmat
Teologi Schleiermacher patut diapresiasi dan dikritisi dengan cermat sehingga kita dapat menarik manfaat dari teologinya dan bagaimana seharusnya menghadapi ketegangan sebagai manusia yang beriman/saleh dan sekaligus rasional.
Pertama. Saya dapat mengerti dan memahami  bahwa pemikiran teologi Schleiermacher tentang  “feeling of absolute dependency” atau “perasaan ketergantungan mutlak kepada Allah” muncul sebagai jawaban terhadap pengaruh rasionalitas yang mempertanyakan arti dan makna kekristenan dalam hidup manusia modern. Memang dengan teologi ini,  seseorang dapat secara bebas meningkatkan kemampuan menafsirkan Alkitab sesuai dengan pengalaman imannya dan tidak lagi terbelenggu dalam doktrin-doktrin Kristen yang ketat. Yesus Kristus menjadi lebih dipahami secara personal, karena “perasaan ketergantungan mutlak” untuk mengalami kehadiran Allah sama seperti Kristus sehingga orang dapat terhindar dari bahaya kemunafikan dan legalisme. Walaupun kelihatannya baik dan positip, teologi ini berbahaya sebab fungsi dan peranan  Alkitab berada di bawah pengalaman manusia sehingga Alkitab kehilangan kontrolnya atas hidup manusia.  Jelas saya menolak teologi ini jika pada akhirnya kewibawaan Alkitab berada di bawah otoritas manusia yang sewenang-wenang dengan akal budinya tanpa perlu mengandalkan bimbingan kuasa Roh Kudus.
Kedua. Akibat keinginan kuat untuk menyelaraskan iman dan akal, Schleiermacher telah membongkar total doktrin Trinitas dan karya keselamatan Allah dalam Yesus bagi manusia. Teologinya tidak lagi berakar pada sumber Alkitab yang berwibawa melainkan pada pengalaman batin manusia yang tentunya telah dikuasai dosa sebagaimana dicatat dalam surat Roma 7:18, 20 “sebab Aku tahu bahwa di dalam aku , yaitu di dalam aku sebagai manusia  tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada  di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik … Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki , maka bukan  lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku”. Untuk dapat memahami Allah dalam kekristenan letaknya bukan pada perasaan manusia dan juga bukan pada kepandaiannya melainkan pada kesatuan hati, jiwa dan akal budi manusia  dalam melakukan kehedak Allah. (Matius 22:37-40) Dapat dikatakan bahwa dalam hal ini teologi  Schleiermacher telah menjadi antropologi sebab pemahaman tentang Allah, Yesus dan Roh Kudus sama sekali berbeda dan bertolak belakang  dengan kesaksian Alkitab.  Jadi saya menolak jika teologi hanya berisi pengalaman-pengalaman manusia yang mutlak tentang Allah.
Ketiga. Schleiermacher sama sekali tidak memberi tempat khusus pada fakta salib dan pengharapan kebangkitan Kristus  yang merupakan dasar utama kesaksian Perjanjian Baru. Tanpa fakta kematian dan kebangkitan Kristus, maka sia-sialah kepercayaan kita  kepada Yesus dan berarti kita masih hidup di dalam dosa (Lihat. 1 Kor. 15:17) Kematian dan kebangkitan Kristus merupakan dua fakta iman yang saling terkait erat sehingga kita mengimaninya sebagai kejadian historis yang membuat kita berpengharapan serta menjamin kebangkitan kita pada akhir jaman. Saya menolak tegas jika Kekristenan tidak berbicara tentang Salib dan kebangkitan Kristus sebab inilah hakikat utama hidup kekristenan yang kita jalani selama ini berdasarkan kesaksian Alkitab.
Keempat, Schleiermacher dengan tegas mengatakan kesempurnaan Yesus dalam “pengalaman kesadaran tentang Allah” telah menempatkan Kekristenan sebagai agama terbaik atau agama paling tertinggi dibandingkan agama-agama lainnya. Pandangan Schleiermacher ini merupakan keyakinan imannya tentang arti kekristenan dalam hidup manusia dan menurut saya patut dicontoh oleh umat Kristen di Indonesia agar kita sebagai umat kristiani tetap setia dan teguh dalam mengimani dan mengikuti Yesus.  Secara pribadi, saya pun pasti menempatkan Yesus dan kekristenan sebagai yang utama dibanding agama dan kepercayaan lainnya. Sikap eksklusif  semacam ini dapat dibenarkan dan turut meneguhkan komitmen iman kristiani kita dalam mengikut Yesus serta mempraktekkan  kasih Allah kepada sesama. Sikap eksklusif ini bukan berarti sikap bermusuhan terhadap penganut agama dan keyakinan lain. Sikap eksklusif harus juga dibarengi dengan sikap keterbukaan terhadap umat beragama lain sebagai saudara-saudari yang diciptakan Allah Bapa. Jadi, kita harus dapat membangun dialog, toleransi dan kerukunan dalam masyarakat majemuk tanpa kehilangan identitas kristiani kita.
Sebagai  Gereja, tentunya  dalam berinteraksi dengan mereka yang berbeda keyakinan kita harus saling mendengar dan menghargai semua pendapat dari pelbagai keyakinan yang ada agar dapat diperoleh saling pengertian yang mendalam guna menangani masalah bersama bangsa ini, seperti  penanggulangan kemiskinan atau bencana alam. Bersama seluruh komponen bangsa, kita  berusaha mencegah konflik horisontal yang hanya mengakibatkan penderitaan dan hancurnya peradaban bangsa kita dan memajukan keadilan dan kedamaian demi kemanusiaan yang bermartabat.
Berdasarkan semua uraian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: (1) Schleiermacher berusaha mencari sintesa antara kesalehan dan rasionalitas dengan menawarkan pemikiran teologi tentang “ketergantungan mutlak kepada Allah” di mana perasaan batiniah manusia menjadi pokok utamanya. Dengan cara ini manusia rasional dapat menghayati Kekristenan sebagai agama yang dapat memberikan jawaban dan menjadi agama terbaik di antara semua agama yang ada; (2) Dalam pengalaman batiniah itu, manusia dapat mengetahui sifat-sifat Allah dan menjalin hubungan yang harmonis dengan  Allah melalui hati nurani yang tulus dan bersih serta praktek kasih terhadap sesama manusia; dan (3) Yesus menjadi model yang disediakan Allah tentang bagaimana seharusnya menghidupi “ketergantungan mutlak  kepada Allah,” sehingga tugas Yesus bukan menebus dosa manusia melainkan sebagai guru dan teladan kita.
Dengan mencermati semua pemikiran teologi Schleiermacher, saya berpendapat bahwa teologi semacam ini tidak dibutuhkan sebab dapat mengakibatkan keresahan bagi warga jemaat kita dan dapat merusak teologi Gereja. Teologi Schleiermacher ini hanya cocok dan tepat bagi masyarakat Barat yang rasional dan individual dan hanya bermanfaat memperkaya pengetahuan dan wawasan teologi kita.
Pelajaran positif yang dapat kita terima bahwa kita pada waktunya pasti menghadapi masalah tentang sejauh mana doktrin Alkitab dan teologi Gereja dapat dipahami oleh manusia yang rasional (warga jemaat) karena perkembangan dan kemajuan iptek. Menghadapi rasionalisme di kalangan warga jemaat, Gereja harus bersungguh-sungguh dalam tugasnya, seperti  penelaahan Alkitab dan pembinaan iman. Selain itu penting, Gereja melibatkan warga jemaatnya untuk terlibat dan mengambil prakarsa dalam aksi kemanusiaan dan mengembangkan sikap dialogis terhadap umat beragama lainnya dalam tingkat nasional dan regional.
———————–SGRS2008—————————–
DAFTAR PUSTAKA
Aritonang, Jan S. Sejarah perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia, Jakarta: Gunung Mulia, 2004.
Ferguson, Sinclair B.  &  Wright, David F,   New Dictionary of Theology, England:  Inter-Varsity Press, 1988.
Hadiwijono, Harun. Iman Kristen, cet. ke-6.  Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1988.
Hadiwijono, Harun Teologi Reformatoris abad ke-20, cetakan ke-3, Jakarta: Gunung Mulia, 1993.
Kung, Hans Great christian thinkers, London: SCM Press Ltd, 1994.
Lane, Tony Runtut pijar: sejarah pemikiran kristiani, diterjemahkan oleh Cony Item-Corputy, cetakan ke-3, Jakarta: Gunung Mulia, 1996.
Steenbrink, Karel A.  Perkembangan teologi dalam dunia kristen modern, Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press,1987.
Smith, Wilfred Cantwell “Pemberhalaan dalam perspektif perbandingan”, dalam Hick, Jhon dan Knitter, Paul F. Mitos Keunikan Agama Kristen,  Jakarta: Gunung Mulia, 2001.
Susabda, Yakub B. Teologi Modern, cetakan ke-3, Surabaya: Pusat Literatur Kristen Momentum Lembaga Reformed Injili Indonesia, 2001.
Sykes, Stephen Friedrich Schleiermacher,  Virginia: John Knox Press,1971.
Tillich, Paul A history of christian thought: from its judaic and hellenistic origins to existentialism, New York: A Touchstone Book, 1968.
Urban, Linwood Sejarah ringkas pemikiran kristen, diterjemahkan oleh     Liem Sien Kie,  Jakarta: Gunung Mulia, 2003.
Willem, F.D. Riwayat hidup singkat tokoh-tokoh dalam sejarah gereja,     Jakarta: Gunung Mulia, 1987.

Teori Evolusi & Doktrin Kreasi

•February 8, 2008 • Leave a Comment
TEORI EVOLUSI & DOKTRIN KREASI

Pengantar
Salah satu topik yang hangat diperdebatkan pada zaman modern ini ialah pertanyaan bagaimana kehidupan ada di atas dunia ini. Ada dua pilihan dasar: (1) melalui proses yang lambat dan alamiah (teori evolusi) atau (2) melalui perintah Penciptaan versi Alkitab (doktrin penciptaan). Pertanyaan utamanya: berapa lama kehidupan ada di atas planet ini dan siapakah penyebab utamanya? Pertanyaan-pertanyaan itu mengajak kita untuk memahami sejauhmana paradigma iptek modern berhadapan dengan paradigma teologi. Bagaimanakah sepatutnya kita menilai dan menempatkan teori evolusi ilmiah  ketika diperhadapkan dengan doktrin penciptaan  alkitabiah?  Paparan berikut  ini menguraikan persoalan tersebut dan menjelaskan sikap yang perlu dikembangkan berkaitan dengan pokok bahasan tentang relasi teologi dan iptek.

Revolusi Pengetahuan
Sampai pada abad ke-16 M. garis-garis besar gambaran alkitabiah atau teori kreasi versi alkitab tentang dunia ini masih dianggap memuaskan oleh orang-orang Kristen di dunia Barat. Selama itu yang berlaku adalah pemahaman Ptolemaius (sentralitas dan immobilitas bumi) dan dalam perkembangannya yang kemudian mendapat pengaruh dari filsafat Aristoteles dan gambaran dunia alkitabiah (Kejadian 1). Kombinasi pemahaman Ptolemaistik-Aristotelian-alkitabiah mendapat goncangan setelah munculnya karya Copernicus, De Revolutionibus Orbium Caelestium (1543). Copernicus mengemukakan bahwa sebenarnya bumilah yang beredar mengelilingi matahari sebagai pusat. Pandangan Copernicus ini merupakan dugaan yang timbul dari ketidakpuasan dalam menghitung peredaran planit-planit secara matematis.
Goncangan berikutnya, yang jauh lebih hebat daripada goncangan  pertama, diakibatkan oleh Charles Darwin. Sampai pada bagian pertama abad ke-19 orang-orang Kristen di Barat menerima teori bahwa jenis-jenis (spesies) yang sepasang-sepasang  berasal langsung dari sang Pencipta. Teori ini menjelaskan kekhasan setiap jenis dalam tata tertib yang diciptakan ini dan bersesuai dengan apa yang dikemukakan oleh kitab Kejadian. Sebelum Darwin  sudah ada beberapa orang yang mulai meragukan teori ini, yang disebabkan oleh penemuan fosil-fosil  dan penyelidikan tentang umur bumi. Berkat usaha Lyell, orang mengetahui bahwa umur bumi sebenarnya jauh lebih tua daripada apa yang selama ini dipercaya secara teologis, bahwa penciptaan terjadi pada 4000 sM. Dalam jangka waktu yang lama terjadilah perkembangan yang menuju pada keadaan bumi seperti pada waktu sekarang ini. Teori evolusi tentang umur bumi mengakibatkan perubahan pandangan di bidang-bidang lain, seperti sastra, filsafat dan biologi.
Tidak hanya Lyell, seorang sarjana Perancis J.B. de Lamarck merupakan orang pertama yang secara tegas menyatakan bahwa kehidupan berkembang dari tumbuh-tumbuhan menuju binatang, dan dari binatang menuju manusia. Namun pandangannya pada waktu itu belum mendapat  banyak perhatian. Pandangan radikal tentang teori evolusi mencuat lewat karya Charles Darwin (1809-1882) dalam bukunya Origin of Species (1859) yang memberikan  banyak sekali bukti-bukti tentang kebenaran teori evolusi dan memperkenalkan prinsip seleksi alam (natural selection) dalam  biologi.  Darwin sendiri tidak secara khusus menolak adanya Pencipta ketika memperkembangkan teori evolusinya (natural selection).

Teori Evolusi
Darwin adalah ahli zoologi, yang menelaah  pengalaman dari pemelihara-pemelihara burung merpati di Inggris. Ternyata dengan cara pemeliharaan  yang berencana dan tekun mereka berhasil memperoleh burung merpati yang jenisnya amat berbeda dari jenis semula. Darwin  mengambil kesimpulan bahwa apa yang dapat dicapai manusia dengan cara berencana, dapat pula tercapai oleh alam sendiri dengan cara seleksi alam. Darwin berpandangan bahwa dalam perjuangan hidup (struggle of life) hanya hewan paling ulet yang paling mampu menyesuaikan diri dengan keadaan iklim dan suasana sekitarnya. Merekalah  yang berhasil mempertahankan kelangsungan hidupnya (survive). Hewan itu cukup punya kelincahan dan keluwesan untuk berubah sedikit (secara biologis) jika iklim dan kekerasan hidup menuntutnya. Turunan dari hewan  yang biologis kuat ini terus menerus mengalami perubahan sedikit. Perubahan-perubahan yang berlangsung selama  jutaan tahun itu akhirnya mengakibatkan timbulnya berbagai jenis binatang yang masing-masing sangat berbeda dengan variasi yang berlipat ganda. Darwin merumuskan  pengalaman-pengalaman dan kesimpulan-kesimpulan di atas, dalam suatu pokok pandangan bahwa: semua jenis binatang berasal dari satu sel purba. Selanjutnya, Darwin mempertajam pandangannya lewat buku keduanya yang menghebohkan dunia, dengan judul ”The Descent of Man” (Asal Usul Manusia) yang terbit tahun 1871. Dalam bukunya ini, Darwin menerapkan teorinya dalam perkembangan binatang-binatang menuju manusia. Binatang yang paling maju, yaitu kera, dengan mengalami proses perjuangan hidup, sedikit demi sedikit berubah dan  dalam jenisnya  yang paling sempurna, mengarah menuju wujud kemanusiaan. Binatang menjadi manusia.
Penemuan fossil Manusia Neanderthal (1856) memperkuat pandangan Darwin.  Fossil Manusia Neanderthal  adalah tengkorak semacam manusia yang diperkirakan pernah hidup kira-kira 100.000 tahun yang lalu, yang ditemukan di diperkirakan pernah hidup kira-kira 100.000 tahun yang lalu, yang ditemukan disebuah lembah dekat Dusseldorf, Jerman Barat. Yang  menyolok pada tengkorak itu adalah bentuk dahi yang rendah, menjorok mundur dengan lengkungan  besar di atas mata, serta tanpa dagu.  Manusia Neanderthal menyerupai baik kera maupun manusia, tetapi tetap harus ditafsirkan sebagai manusia yang berdiri tegak. Dekat tengkorak itu ditemukan pula perkakas-perkakas kerja yang primitif. Teori Darwin ini dikembangkan lebih lanjut oleh seorang sarjana ilmu pengetahuan alam dari Jerman, yakni  Ernst Heinrich Haeckel (1834-1919). Berbeda dengan Darwin yang berpandangan bahwa sel-sel purba diciptakan oleh Tuhan, Haeckel menolak teori kreasi sama sekali.  Dunia ini menurut Haeckel adalah kekal, tak ada permulaan, dan hidup tercipta dengan  sendirinya secara mekanis. Demikian juga halnya dengan manusia. Atas pengaruh Haeckel timbullah kebiasaan untuk menyamaratakan manusia dengan kera, melalui ungkapan dangkal ”manusia berasal dari kera”.

Tantangan terhadap Kekristenan
Pandangan Darwin langsung menantang keyakinan Kristen tradisional. Pertama, tantangan untuk pembacaan harfiah Alkitab: proses evolusi yang lambat dan gradual tidak dapat didamaikan dengan kisah penciptaan ilahi dalam tujuh hari (Kejadian 1). Kedua, tantangan langsung terhadap martabat manusia: secara tradisional kekristenan memandang  manusia berbeda dengan  makhluk lain secara fundamental karena jiwa mereka abadi, karena mereka diciptakan ”dalam citra Allah” dan karena perbedaaan  rasionalitas manusia yang unik. Ketiga, tantangan terhadap desain dan tujuan ilahi: Darwin berhasil menunjukkan bahwa adaptasi dapat dijelaskan dengan proses variasi dan seleksi alam  yang berjalan tanpa sosok tertentu. Keempat, tantangan terhadap gagasan Kristen tentang Allah: teori evolusi melalui seleksi alam akan memusnahkan setiap pembedaan  sederhana dan mudah tentang apa itu ”natural” dan ”apa itu super natural”.
Kaum fundamentalis Kristen berdiri pada barisan terdepan menolak teori evolusi Darwin. Mereka berpendapat bahwa (1) Alkitab bukanlah buku teks ilmiah dan tujuannya bukan untuk memperlihatkan kebenaran-kebenaran ilmiah, melainkan menyatakan kehendak dan maksud Allah bagi manusia; (2)  bumi berumur 6000 tahun; (3) Kejadian 1 adalah karya sastra yang agung dimana ilmu pengetahuan tidak dapat menumbangkannya;  (4) teori evolusi tidak  membuktikan apapun terhadap kebenaran-kebenaran Alkitab.

Doktrin Penciptaan: tinjauan alkitabiah
Doktrin penciptaan tidak boleh dikacaukan atau disamakan dengan teori ilmiah tentang asal usul. Maksud doktrin ini bersifat etis dan keagamaan, bertentangan dengan sifat penelitian ilmiah.  Doktrin penciptaan tidak hanya dicatat dalam pasal 1 kitab Kejadian tetapi dapat dibaca juga dalam kitab nabi Yesaya 40:26, 28; 42:5; 45:18; Yeremia 10:12-16; Amos 4:13; Mazmur 33:6,9; 90:2; 102:25; Ayub 38:4; Nehemia 9:6; Yohanes 1:1; Kisah Para Rasul 17:24; Roma 1:24-25; 11:36; Kolose 1:16; Ibrani 1:2; 11:3; dan Wahyu 4:11; 10:6.
Doktrin penciptaan merupakan pernyataan iman orang percaya bahwa Allah yang menciptakan langit dan bumi serta segala isinya  seperti yang dikatakan surat Ibrani 11:3, ”Karena iman kita mengerti bahwa alam semesta telah dijadikan oleh Firman Allah.” Ini berarti, bahwa ajaran Alkitab tentang penciptaan didasarkan atas penyataan atau wahyu ilahi, dan dapat dimengerti hanya berdasarkan iman. Inilah yang membedakan secara tajam pendekatan Alkitab dengan pendekatan ilmiah. Jadi Kejadian 1 tidak dapat dijadikan referensi ilmiah tentang bagaimana dunia dijadikan, melainkan untuk menunjuk bahwa Tuhan adalah Pencipta dan mengajak orang beriman untuk mempercayakan hidupnya kepada Tuhan Allah. Doktrin Penciptaan alkitabiah menyebutkan bahwa Allah menciptakan dengan firmanNya. Penelitian lengkap menyimpulkan bahwa terdapat variasi menyangkut kisah Penciptaan, yakni: (1) penciptaan  melalui tindakan; (2) penciptaan melalui generasi dan kelahiran; (3)  penciptaan melalui konflik; dan (4) penciptaan melalui fiman. Jelas bahwa kisah penciptaan melalui Firman hanyalah salah satu dari beragam kisah penciptaan tentang alam semesta dan manusia.
Kisah penciptaan dalam Kejadian 1:1-2:3 dapat dikategorikan bercorak puisi yang ditulis pengarang (yang diasumsikan sebagai Musa) yang diilhami Roh Allah dengan tujuan menyatakan bahwa Allah sebagai Pencipta yang Mahakasih. Penting untuk diperhatikan bahwa peran Allah sebagai Pencipta tidak dapat dipisahkan dari perjanjianNya dan penebusanNya. Karena itu dapat dikatakan bahwa Allah tidak hanya berhenti mencipta pada peristiwa tertentu tetapi tetap mencipta secara berkelanjutan (creatio continua) dimana Allah bertanggungjawab memelihara dan menopang ciptaanNya sampai sekarang. Jelas doktrin Penciptaan menolak paham bahwa Allah tidak lagi berhubungan sama sekali dengan ciptaanNya (deisme) dan paham bahwa Allah dapat disamakan dengan ciptaan (panteisme).
Penggunaan kata kerja Ibrani bara (mencipta) dalam kitab kejadian 1 mengandung makna bahwa  tak ada sesuatupun di dunia ini yang bisa disamakan dengan Allah, dan bahwa  dunia inipun sama sekali bukan musuh Allah. Dunia dan segala isinya, termasuk manusia adalah bagian dari ciptaan Allah. Riwayat penciptaan dimana Allah mencipta dalam 6 hari tidak dimaksudkan secara kronologis, tetapi hanya untuk meneguhkan kenyataan bahwa Allah saja yang menjadikan segala sesuatu. Sekalipun manusia sangat berdekatan dengan alam binatang, namun perbedaan utamanya bahwa manusia diciptakan Allah menurut gambar dan rupaNya. (Kej 1: 27). Manusia adalah tiruan Allah seperti aslinya.

Iman dan Iptek: Bagaimanakah seharusnya?
Teori evolusi Darwin telah mengakibatkan tantangan serius bagi kekristenan. Penelitian historis membuktikan bahwa relasi sains dengan teologi sepanjang abad ke-19 dan ke-20 bukan hanya berupa ”peperangan” atau konflik. Claude Welch, seorang sejarawan dan teolog menyebutkan  tiga jenis respons terhadap sains, yaitu: (1) oposisi; (2) mediasi yang dilakukan dengan hati-hati atau akomodasi; dan (3) pengagungan evolusi atau asimilasi.
Saya berpendapat bahwa teori evolusi tidak serta merta mengganggu kehidupan beriman kita. Hasil penelitian ilmiah, termasuk teori evolusi selain memperluas wawasan kita, juga dapat menambah keyakinan kita tentang Allah dan perbuatanNya dan sekaligus menolong kita dalam memperjelas penafsiran Alkitab dalam studi teologi (misalnya, bumi yang berputar mengelilingi matahari), Jadi  Alkitab dan  ilmu pengetahuan dapat menjadi sumber pengetahuan bagi kita tentang karya Allah dalam dunia ini.
Tentunya bukan berarti  teori evolusi dianggap sebagai metode Allah menciptakan  segala sesuatu dan menggantikan doktrin penciptaan alkitabiah.  Sebab jika demikian maka kita menolak fakta iman bahwa Allah tetap mencipta, memelihara dan menopang ciptaanNya sampai sekarang, serta membenarkan teori seleksi alam bahwa yang kuatlah yang dapat hidup. Punahnya spesies-spesies tertentu, seperti dinosaurus dan ditemukannya fosil manusia purba sebagaimana laporan penelitian ilmiah mutakhir, bukan berarti kekristenan (agama) harus menutup diri,  melainkan melakukan pembacaan ulang (reinterpretasi) Alkitab  secara kritis dalam rangka memuliakan Allah.  Pembacaan ulang Alkitab secara kritis justru membangun kehidupan iman yang relevan dengan konteks. Selain itu, dialog lintas ilmu dapat memberi gambaran lengkap bagi penafsiran teologi kita.
Jika teori evolusi berkesimpulan bahwa manusia adalah turunan monyet, maka  saya berpendapat hasil kesimpulan ilmiah ini tidak dapat diaminkan 100 % keakuratannya, terlebih lagi bagi kehidupan beriman kita.  Para peneliti ilmiah hanya dapat merekonstruksi hasil temuannya dari kehidupan yang sudah punah (fossil) dan tidak dapat memastikan dengan tepat bahwa sejatinya manusia adalah keturunan monyet. Kita dapat menolak teori ini karena  berlawanan dengan keyakinan iman kita, sebab manusia adalah ciptaan Allah yang dimahkotai dengan kemuliaanNya (Mzm 8:1-10).
Penolakan ini merupakan sikap kritis dengan tetap terbuka dalam memandang kebenaran-kebenaran Alkitab dan pengetahuan ilmiah sebagai yang saling melengkapi (komplementer). Keduanya tidak perlu  dipertentangkan dan tidak juga harus dipisahkan secara tajam. Sekalipun keduanya berbeda dalam penjelasan, berbeda dalam metodologi dan berbeda dalam tujuannya, tetapi keduanya dapat saling melengkapi. Tidak pada tempatnya lagi untuk mengutuk hasil penelitian ilmiah sebagai sesat, karena Alkitab adalah pernyataan iman dalam bahasa religius dan bukan buka pegangan bagi ilmu pengetahuan (handbook of science). Tentu diharapkan juga bahwa para ilmuwan menyadari batas-batas keilmuannya, sehingga tidak mengklaim bahwa dunia ini tidak diciptakan Allah. Superioritas ilmu pengetahuan tidak menjamin bahwa realitas dapat diketahui secara lengkap, termasuk keberadaan dan kehadiran Allah Pencipta, Pemelihara dan Penopang seluruh ciptaan. Akhirnya, keterbukaan dan penghargaan terhadap kebenaran ilmu pengetahuan dalam menyelidiki alam semesta, justru memperbesar penghargaan kita terhadap karya tangan Allah yang kreatif dan mengagumkan.

——————-SGRS2008——————————

DAFTAR PUSTAKA
Barr, James.  Alkitab di dunia Modern.  Jakarta: BPK GunungMulia, 1995.
Clayton, Philip.  God and Contemporary Science,   Edinburgh: Edinburgh     University Press, 1997.
Dahler, Franz dan  Chandra, Julius. Asal dan Tujuan Manusia: Teori Evolusi     yang     Menggemparkan Dunia, cet. ke-10.  Yogyakarta: Penerbit Kanisus,     1991.
Douglas, J.D.  et.al. Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jilid I: A-L, cet. ke-6, Terj. Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 2002.
Hadiwijono, Harun.  Iman Kristen.  Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1988.
Jeeves, Malcolm A.  dan Berry, R.J. Science, Life and Christian  Belief: A survey and assessment.  Leicester: Apollos, 1998.
Lempp, Walter.  Tafsiran Kedjadian 1:1-4:26,  Djakarta: BPK, 1964.
Peacocke, A. R. Creation and the World of Science, Bampton lecture series,     1978,     Oxford: Oxford University Press, 1979.
Peters, Ted dan Bennet, Gaymon. Menjembatani Sains dan Agama, terj. Jessica Christiana Pattinasarany.  Jakarta: BPK Gunung Mulia,  2004.
Singgih, Emmanuel Gerrit. Dunia yang Bermakna: Kumpulanan Karangan Tafsir Perjanjian Lama, Jakarta: Persetia, 1999.
van Huyssteen, J. Wentzel.  Duet atau Duel: Teologi dan Sains dalam Dunia Post-Modern, terj. Sudi Ariyanto. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002.
Wahono, S. Wismoady.  Di sini kutemukan.  Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1990.
Westermann, Claus.  Creation, terj. John. J. Scullion.  Philadelphia: Fortress Press, 1974.
Wright, Richard T.  Biology through the Eyes of Faith.  Leicester: Apollos, 1991.

Kemiskinan: Perspektif & Tanggungjawab kristiani

•February 8, 2008 • Leave a Comment
KEMISKINAN: PERSPEKTIF & TANGGUNGJAWAB KRISTIANI

PENGANTAR
Bulan Maret 2007 yang lalu  Pemerintah melalui Badan Pusat Statistik melaksanakan  Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Kegiatan berkala  tersebut bertujuan memotret kondisi sosial-ekonomi masyarakat, yang akan menjawab juga posisi terakhir kemiskinan di Indonesia. Angka resmi jumlah masyarakat miskin saat ini menurut Bustanul Arifin dalam tulisannya di harian Kompas 19 Februari 2007 adalah 39,1 juta orang (17,75%) dengan kisaran konsumsi kalori 2.100 kilokalori (kkal) atau garis kemiskinan sekitar Rp. 152.8457 per kapita per bulan; jumlah itu diukur dari beaya memenuhi bahan pokok pangan dan papan minimum.. Jumlah penduduk miskin ternyata semakin bertambah setiap tahun sejak data pada  Februari 2005 dengan jumlah 35,10 juta, lalu data pada  Maret 2006 ada 39,05 juta  sampai data Februari 2007 dengan 39,1 juta penduduk miskin.
Kemiskinan menurut ilmu-ilmu sosial dapat dibedakan antara kemiskinan mutlak dan relatif yang  pada umumnya saling berkaitan. Kemiskinan mutlak berarti bahwa kebutuhan-kebutuhan pokok primer seperti pangan, sandang, papan, kesehatan (air bersih, sanitasi), kerja yang wajar dan pendidikan dasar tak terpenuhi; apalagi kebutuhan-kebutuhan sekunder seperti misalnya hak berpartisipasi, rekreasi atau lingkungan hidup yang menyenangkan. Jadi orang-orang miskin hidup dalam kemelaratan yang sangat jelas. Bentuk yang paling ekstrem adalah  kelaparan yang bisa mengakibatkan kematian. Orang miskin juga lebih cepat mati kalau terkena oleh suatu penyakit karena  badanya kurang sehat. Karena itu bagaimanapun juga kemiskinan mutlak harus  diberantas.
Kemiskinan relatif  berkaitan dengan  pembagian pendapatan nasional dan berarti  terdapat perbedaan  yang mencolok antara berbagai lapisan atau kelas dalam masyarakat. Dengan demikian, pasti ada orang yang disebut miskin dibandingkan mereka yang sangat kaya raya.  Pada umumnya terutama di negara-negara berkembang termasuk Indonesia, orang yang relatif miskin itu juga miskin secara mutlak.   Perkiraan kasar menggambarkan bahwa 3 % adalah orang yang kaya raya dan sekaligus berkuasa; 17% adalah orang kelas menengah yang hidup lebih daripada cukup dan biasa disebut relatif kaya;  40% adalah orang yang hidup pas-pasan yang bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok mereka tetapi selalu terancam masuk kelompok orang miskin mutlak kalau tertimpa oleh musibah seperti penyakit, kecelakaan atau pemutusan hubungan kerja; dan 40 % adalah orang melarat mutlak yang tidak bisa hidup secara layak dan kecil peluangnya untuk keluar dari keadaan ini. Jadi dalam hal ini masalah pemerataan jauh lebih mendesak dalam situasi di mana masih ada banyak orang dalam kemelaratan mutlak.
Ketidakadilan telah mengakibatkan penderitaan bagi orang-orang miskin sehingga mereka yang miskin tidak mempunyai apa yang seharusnya menjadi miliknya. Penderitaan yang diakibatkan kemiskinan telah menyebabkan  mereka berusaha mengubah keadaan buruk ini dengan alternatif pemecahan yang beragam. Rakyat miskin dapat melakukan protes-protes terhadap “kelas yang berkuasa” yang dianggap sebagai penyebab penderitaan mereka. Mereka mengikuti program pemerintah dan menerima bantuan karitatif seperti BLT (Bantuan Tunai Langsung sebesar Rp. 100.000/bulan. Atau  terkadang mereka bergabung dalam berbagai kelompok pengharapan mesianis,  suatu keyakinan dan kerinduan akan datangnya seorang juruselamat atau ratu adil yang akan menghadirkan masa depan yang lebih baik secara radikal berbeda dengan konteks historis masa kini yang menindas. Sebagai bangsa yang religius, mungkinkah kita sebagai Gereja bersama umat beragama lainnya menutup mata terhadap kenyataan kemiskinan yang telanjang di hadapan kita? Benarkah bahwa penyebab kemiskinan dikarenakan  faktor kemalasan dalam diri manusia itu sendiri? Ataukah pemerintah yang diktator dan otoriter turut  menyebabkan dan melanggengkan kemiskinan?  Dapatkah disetujui jika dikatakan kemiskinan sebagai hukuman Allah terhadap dosa  manusia? Bagaimanakah sebenarnya iman Kristen yang bersumber pada  Alkitab berbicara soal kemiskinan? Benarkah anggapan bahwa kemiskinan merupakan  bentuk kesalehan kristiani? Lalu,  bagaimanakah para teolog Indonesia berbicara soal tema kemiskinan?  Akhirnya, penulis akan memberikan  kesimpulan dan refleksi atas semua uraian mengenai kemiskinan.

KEMISKINAN MENURUT ALKITAB
Kemiskinan merupakan salah satu tema sentral baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Kemiskinan dalam Alkitab pada satu pihak menunjukkan sikap dan hubungan manusia dengan sesamanya dan di pihak lain antara manusia dengan Allah. Perjanjian Lama menggunakan istilah rash untuk  orang miskin. Orang miskin ini bisa berarti juga ebyon, pengemis, orang yang berkekurangan dan menunggu orang lain untuk memberi. Bisa juga dal, orang lemah atau kaum proletar. Orang miskin dapat disebut juga ani, mereka yang sudah kerja berat tetapi tidak punya apa-apa, mereka yang terhina. Akhirnya orang miskin bisa juga berarti anaw, mereka yang merendahkan diri dihadapan Allah (humble before God).
Kemiskinan mereka  disebabkan karena ketidak adilan hidup mereka tertindas karena kejahatan penguasa (lihat Ayub 24:2-14). Kemiskinan bukan disebabkan oleh takdir atau nasib, melainkan karena perbuatan jahat penguasa (Amos 2:6-7). Yesaya mengindentifikasikan  bahwa orang miskin sebagai orang yang dirampok hak-haknya (Yesaya 10:1-2). Nabi-nabi pun mencela perlakuan yang kejam kepada orang miskin seperti  eksploitasi dan pratek dagang yang curang (Hos. 12:8; Am. 8:5; Mik. 6:10-11; Yes. 3:14;  Yer. 5:27; 6:12); mereka yang dirampas tanah  (Mik. 2:1-3; Yeh. 22:29; Hab. 2:5-6): mereka yang tidak mendapatkan pengadilan yang  jujur (Am. 8:5; Yer. 22:13-17; Mik 3:9-11; Yes 5:23; 10:1-2);  Perjanjian Lama mencatat bahwa Allah membebaskan bangsa Israel dari perbudakan  yang membuat mereka hidup menderita. “Biarkan umatKu pergi agar mereka dapat beribadah kepadaKu (Kel. 4:23). Tindakan  pembebasan Allah bagi bangsa Israel  ini dapat diartikan bahwa Allah berkarya dalam dunia untuk menghancurkan kesombongan manusia (Ul 7:7-8). Tujuan utama hukum Musa mencegah ketidakadilan terjadi (Ul. 6:20-25) agar supaya tidak ada kemiskinan di antara umat Israel. Dalam pemerintahan monarki, raja Israel   bertugas untuk melindungi orang miskin dari eksploitasi (Ams. 31:1-8) dan menjamin keadilan bagi mereka (Yes. 11:4).
Perjanjian Baru mempunyai empat kata untuk “miskin”, yaitu ptokhos (34x), penes (1x), penikhros (1x) dan endees (1x). Ptokhos berarti orang miskin, seseorang yang tidak memiliki sesuatu yang penting untuk hidupnya atau orang yang bernasib malang sehingga mengemis.   Kata ptokhos selalu berarti orang yang secara material miskin. Mereka tidak hanya tanpa harta milik. Mereka juga tidak mendapat pendidikan. Mereka tidak punya tempat dalam masyarakat, tidak terpandang dan tidak terpakai. Mereka miskin baik dalam arti ekonomis maupun dalam arti sosial. Kitab-kitab Injil  mencatat bahwa orang miskin bersama dengan orang buta, orang lumpuh, orang kusta dan orang tuli (Mat. 11:5; Mat. 25:35; Luk. 14:13-21; 16:20; Mrk. 10:46-52). Yang disebut miskin tidak hanya pengemis, yang memelas karena kelemahan fisik, tetapi termasuk juga buruh harian yang menganggur, budak yang melarikan diri; orang-orang yang mengungsi dan orang-orang yang harus lari karena tidak bisa membayar utang
Pada zaman Yesus, di Palestina kehidupan orang tidak hanya berat tetapi sungguh-sungguh miskin. Rakyat dihisap oleh orang Romawi, khususnya melalui pajak. Tidak mengherankan bila pegawai pajak sangat dibenci oleh seluruh rakyat dan dipandang  sama dengan pendosa.  Mereka yang miskin sungguh-sungguh lapar, sakit dan haus. Yesus sendiri mengidentifikasikan dirinya dengan mereka yang miskin, “Anak manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya” (Mat. 8:20); dan  Lukas menceritakan bahwa sesudah kelahiranNya, Yesus “dibaringkan di dalam palungan, karena tidak  ada tempat bagi mereka di rumah penginapan” (Luk 2:7). Oleh karena itu Paulus berkata “Ia menjadi miskin, sekalipun  ia kaya” (1 Kor 8:9). Yesus benar-benar senasib dengan orang miskin. “Roh Tuhan ada di atasKu, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin (Luk. 4:13). Nubuat nabi Yesaya (61:1) yang dikutip Lukas bertujuan untuk menjelaskan misi Yesus.
Dalam khotbahnya di Bukit,  Yesus berkata “Berbahagialah  orang yang miskin di hadapan Allah; karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” (Mat. 5:3; Luk. 6:2-23) Kerajaan Allah sudah datang. Allah menyatakan diriNya. Kaum miskin bukan lagi kaum tertindas, yang tidak mempunyai kedudukan dan hak suara dalam masyarakat. Tuhan tidak menerima lagi ketidakadilan. Kedatangan Kerajaan Allah berarti pengakhiran kemiskinan, penghapusan kemalangan.   Jelas bahwa kebahagiaan orang miskin sebagaimana ucapan Yesus dalam Matius 5:3 bukan dalam pengertian memilih hidup untuk miskin secara material, melainkan hidup dalam ketaatan kepada Allah sekalipun mengalami penderitaan akibat penindasan dari pihak orang yang kuat di dunia ini.

PANDANGAN TEOLOG INDONESIA TENTANG KEMISKINAN
Kemiskinan telah  menjadi keprihatinan teolog-teolog Indonesia sehingga mereka berusaha mencari jawab bagaimana sesungguhnya iman Kristen dan Gereja menyatakan sikap dan kepeduliannya. Pemikiran dua teolog Protestan yaitu Pdt. Dr. S.A.E. Nababan dan Pdt. Dr. A.A. Yewangoe,  akan dibentangkan berdasarkan pendapat teologis mereka masing-masing terhadap masalah kemiskinan yang tetap aktual sampai sekarang Keduanya sengaja dipilih sebab mereka aktif terlibat dalam kegiatan ekumenis berskala nasional sebagai  pucuk pimpinan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI, dulu DGI). Paling tidak pemikiran teologis mereka telah mewarnai misi PGI dalam konteks Indonesia yang majemuk dan bagaimana Gereja turut terlibat aktif menanggulangi masalah kemiskinan dalam kerjasama dengan Pemerintah yang berkuasa.
1.     Pdt. Dr. S.A.E.  Nababan
S.A.E Nababan adalah seorang pendeta (emeritus) Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), dengan latar belakang Lutheran. Ia memperoleh doktor teologinya di Universitas Heidelberg tahun 1962 dengan disertasinya, Kurios Bekenntnis und Mission bei Paulus (Pengakuan akan Tuhan dan Misi pada Paulus).  Pada pemerintahan Suharto,  pernah menjabat sebagai Ephorus HKBP dan salah satu Ketua dari Majelis Pekerja Harian (MPH) PGI. .
Nababan berpendapat bahwa masalah kemiskinan telah muncul kembali di Indonesia, khususnya dalam bagian kedua dari dasawarsa revolusi yang disalah-gunakan oleh Partai Komunis Indonesia untuk keuntungan politik mereka. Menurutnya,  terdapat 3 sikap dalam melihat kemiskinan: (1) memandang kekayaan sebagai sesuatu yang jahat dan nilai-nilai material sebagai hal yang bertentangan dengan nilai-nilai rohani; (2) hidup dalam dikotomi: iman tidak mempunyai hubungan apapun dengan hal-hal materi; dan (3) memandang kekayaan sebagai tujuan hidup kemiskinan sebagai musuh yang berbahaya.  Sikap-sikap ini muncul akibat reaksi yang menganggap kemiskinan sebagai kehendak Allah dan bahkan menyukakan Allah.
Kemiskinan bagi Nababan, tidak boleh cepat-cepat dihubungkan dengan kehendak Allah, sebagaimana teologi pietisme dan doktrin yang berlebihan tentang pemeliharaan Allah. Terdapat penafsiran yang keliru dan harafiah terhadap ayat-ayat Alkitab yang dianggap sebagai  dasar bagi pandangan bahwa Allah menginginkan manusia miskin, misalnya 1 Samuel 2:7a, Ayub 1:21 dan Amsal 22:2.   Nababan menafsirkan bahwa 1 Samuel 2:7a tidak  mengatakan bahwa Allah menjadikan orang kaya atau miskin, sehingga kemiskinan selalu dan hanya disebabkan oleh Allah. Sebaliknya di situ dikatakan bahwa Allah dapat membuat manusia kaya atau miskin. Kata dapat menunjuk kepada kuasa Allah, bukan suatu derajat kesewenang-wenangan Allah, yang menjadikan orang kaya atau miskin. Dengan kata lain, tanggung jawab untuk menjadi kaya terletak pada manusia sendiri.
Kitab Ayub 1:21, menurutnya bukanlah suatu sikap menyerah kepada nasib melainkan suatu pengakuan iman dan Amsal 22:2 bukanlah suatu pernyataan yang mengatur status ekonomi manusia, melainkan suatu pernyataan yang secara jelas mengungkapkan bahwa Allah adalah Khalik manusia, baik kaya maupun miskin. Karena itu, Allah tidak menciptakan orang kaya dan miskin, melainkan orang-orang yang kaya dan miskin. Penekanannya harus diletakkan pada manusia, dan bukan pada status ekonomi manusia. Adalah hak istimewa Allah jika orang miskin dapat dipakai sebagai alatNya yang unik di tanganNya
Nababan dengan yakin melihat bahwa penyebab kemiskinan terletak dalam kemalasan dan usia tua (Am. 6:9-11; bnd 24:30; 19:15), kemabukan dan kerakusan (Am 21:17; 23:20-21), eksploitasi jahat terhadap sesama (2 Sam 11-12), yang berpengaruh langsung bagi kehidupan sosial ekonomi. Kemiskinan dapat juga diakibatkan oleh dominasi kolonial (Kel 1) dan bencana alam (Kel 10:4-5). Kemiskinan tidak boleh secara otomatis disamakan dengan kesalehan, meskipun dalam kesalehan Yahudi terdapatorang miskin yang disebut “adil, benar dan saleh”. Mereka disebut demikian karena  mereka telah miskin dan membuat dirinya sepenuhnya  tergantung kepada Allah.
Jadi kemiskinan tidak dapat dilihat sebagai suatu kebajikan Kristen, meskipun misalnya didasarkan ucapan Yesus dalam khotbah di Bukit. Kata Yunani ptokhos yang dipakai dalam  KhotbahNya mengacu pada tindakan menggali lubang, yang berarti bekerja keras untuk diri sendiri. Ini berarti kata ptokhos berusaha meng-gambarkan orang-orang miskin dan menderita akibat keadaan-keadaan mereka, namun yang dalam kemiskinannya membuat dirinya bergantung kepada Allah. Mereka inilah yang dalam pengharapannya ditujukan kepada Allah, disebut “berbahagia”. Karena itu Yesus tidak setuju dengan kemiskinan, ketika Ia menyebut orang miskin “berbahagia”.  Sebaliknya, jelas sekali  bahwa Yesus  tidak mengagungkan kemiskinan. Allah mengalahkan kemiskinan (Mat. 11:4)  Jadi pandangan yang memahami kemiskinan sebagai suatu kebajikan harus ditolak.
Cerita tentang orang muda yang kaya dalam Markus 10:21 tidak boleh ditaf-sirkan sebagai satu di antara banyak kemungkinan yang dapat dipilih manusia untuk mencapai kesempurnan dalam hidup, atau salah satu keputusan moral, melainkan suatu panggilan untuk mengambil keputusan, yakni ketaatan atau pemberontakan ter-hadap Allah. Mengenai soal keadilan, Nababan berpendapat bahwa kaum miskin harus dihargai harkat dan martabatnya baik dalam prinsip maupun praktek hidup. Tegasnya,    jurang antara yang miskin dan yang kaya harus dihapuskan, sebab jika tidak,  masyarakat akan menghadapi  bahaya besar. Kemalasan pun harus dihapuskan.
Kemiskinan tidak dapat dianggap sebagai hukuman atas dosa, walaupun kenyataannya kemiskinan jelas merupakan hasil dan konsekuensi kuasa dosa dalam dunia ini. Kemiskinan di Indonesia sangat riil saat orang miskin kekurangan dalam soal pangan dan sandang. Karenanya,  kemiskinan tidak dapat dilihat sebagai suatu kebajikan Kristen ataupun penghukuman atas dosa. Pemecahan masalah kemiskinan tidak dapat dilakukan terpisah dari iman kepada Yesus Kristus. Dalam kenyataan salib, Yesus telah mencengkram semua kemiskinan manusia dan mengubahnya menjadi suatu berkat dan hidup berkelimpahan bagi setiap orang.
2.     Pdt. Dr. A.A. Yewangoe
A.A. Yewangoe adalah seorang pendeta Gereja Kristen Sumba (GKS) dengan latar belakang Calvinis dan berasal dari Mamboru, NTT. Doktor teologinya diselesaikan pada tahun 1987 di Universitas Vrije . Disertasinya telah dibukukan dengan judul Theologia Crucis di Asia: Pandangan-pandangan orang Kristen Asia mengenai penderitaan dalam kemiskinan dan keberagamaan di Asia. Sekarang ini, Yewanggoe menjabat sebagai Ketua Umum PGI
Yewangoe melihat bahwa kemiskinan menjadi masalah utama bangsa-bangsa Asia yang religius. Teolog-teolog di Asia antara lain seperti Vengal Chakkarai, M.M. Thomas, S.J.  Samartha, Jong Youg Lee, Kazoh Kitamori, Kosuke Koyama,  J.L. Ch. Abineno dan Eka Darmaputera, telah mengembangkan refleksi teologis seputar kemiskinan dan religiositas dalam kaitan dengan “kemanusiaan yang seutuhnya” (keselamatan). Berbicara soal kemiskinan dan religiositas multi wajah, Yewanggoe berpendapat pentingnya makna pembebasan dan inkulturasi agar Gereja  dapat menemukan soteriologi (keselamatan) bagi bangsa Asia. Belajar dari  misionaris Barat yang menilai budaya-budaya lokal masyarakat di Asia sebagai “musuh”  Injil, telah mengakibatkan keterasingan Gereja terhadap konteksnya.  Yewanggoe berkeyakinan bahwa Asia menyediakan soteriologi “bukan Kristen” yang melimpah dalam konteksnya  dan  harus ditemukan agar Gereja dapat menjawab  harapan dan kerinduan bangsa Asia tentang keselamatan dari penderitaan dan perwujudan negara yang adil makmur.
Para teolog Asia,  menurut Yewangoe memandang Yesus sebagai Dia yang bersimpati dan berdiri pada pihak orang-orang yang menderita, yakni mereka yang tersingkir dan ditindas. Dapat dikatakan bahwa inilah cara solidaritas yang diper-lihatkan Yesus. Pada pihak lain, metode-metode untuk melepaskan diri dari pen- deritaan dan untuk mencapai keselamatan dan pembebasan yang ditawarkan oleh soteriologi-soteriologi “bukan Kristen” harus ditempatkan di bawah kritik dari Dia yang Tersalib ini. Pada saat yang sama, Dia yang Tersalib itu juga harus berfungsi sebagai kritik terhadap soteriologi “Kristen” yang secara historis telah mengambil bentuk kolonialisme, imperialisme, neo-kolonialisme dan neo-imperialisme, di mana Kristus “diteruskan” sebagai Kristus yang Perkasa.    Menghadapi masalah penderitaan akibat kemiskinan, penting untuk melakukan dua tindakan   pembebasan atau penebusan yakni aksi , yakni tindakan menyingkirkan penderitaan dan kontemplasi yaitu kesadaran untuk menemukan masa depan di tengah penderitaan. Aksi dan  kontemplasi harus dilakukan secara berbarengan sehingga  ketimpangan bisa dihindari. Aksi tanpa kontemplasi akan mengarahkan kita pada radikalisme, sementara kontemplasi tanpa aksi akan membawa kita kepada keadaan tanpa tujuan atau pementingan diri sendiri.
Di dalam hakikatNya sebagai kasih, Allah benar memang turut menderita, bersama manusia tetapi bukan berarti manusia harus tetap tinggal dalam penderitaannya sebab pada saat yang sama Allah berdiri di luar penderitaan manusia. Transendensi ini mengacu kepada Allah yang berarti kedudukan Allah sebagai ungkapan kuasaNya harus pula dilihat sebagai ciri kasihNya. Dengan begitu jelas, bahwa Allah dalam kasihNya benar telah ikut menderita sebagai Juruselamat  dan sekaligus menjadi Pemimpin dalam sejarah dengan kuasaNya. Menekankan kedudukan Allah sebagai “yang menderita” dengan mengorbankan kuasaNya, akan menciptakan kemungkinan menjadikan Dia sejenis “berhala” sebagaimana dalam pemahaman agama suku. Di pihak lain, menekankan kuasaNya dengan  mengorbankan kedudukanNya sebagai “yang ikut menderita”, bisa membawa pada penyalah-gunaan kuasa demi kepetingan diri sendiri, khususnya oleh mereka yang mengingini kekuasaan mutlak.
Terdapat kecendrungan untuk menjadikan penderitaan dan kematian Yesus sebagai sesuatu yang indah dan menarik atau kultus penderitaan (dolorisme) sehingga manusia yang menderita tidak menyadari dosa yang diperbuatnya tidak berkenan bagi Allah. Tanpa pengampunan dosa, usaha manusia melepaskan  diri dari penderitaan akan membawa dirinya kepada radikalisme dan estremisme. Yang dibutuhkan para  pengikut Yesus bukanlah dolorisme, melainkan mistisime salib, yakni keterlibatan dalam masalah-masalah manusia yang konkret dan tidak mengharapkan  ganjaran. Yewanggoe berpendapat bahwa pandangan yang melihat Yesus sebagai Allah  yang menderita bersama orang-orang yang menderita, ternyata telah disalahgunakan sebagai pembenaran dan alibi bagi berbagai penderitaan, kemiskinan, ketidakadilan dan penindasan.  Yesus tidak hanya menderita bersama orang yang menderita tetapi sekaligus untuk  mereka yang menderita, sehingga tidak perlu dipertentangkan antara “Yesus sebagai Juruselamat” dan “Yesus sebagai Pembebas”. Yesus telah bertindak sebagai kurban, yang berarti sepenuhnya Yesus berdiri bersama mereka  yang berada dalam penderitaan dan sekaligus Yesus adalah kurban dalam pengertian melalui Dia terjadi pendamaian sehingga manusia diselamatkan dan hubungannya dengan Allah dipulihkan.
Menyikapi penderitaan dan  kemiskinan, bahwa untuk dapat menjadi Gereja Asia, maka gereja-gereja harus memahami dirinya kembali di tengah masyarakat Asia. Gereja harus menyatakan solidaritas terhadap penderitaan manusia dan sekaligus kritik terhadap misinya. Gereja harus melakukan aksi dan kontemplasi sehingga Gereja dapat menyuarakan suara kenabiannya kepada para penindas atau sistem yang menindas, tetapi juga terhadap segala usaha manusia untuk melepaskan diri dari ikatan penderitaan. Gereja harus menjadi Gereja Salib, yakni gereja yang senantiasa mengingat penderitaan dan kematian Yesus sekaligus pada saat yang sama membuka mata dan telinganya bagi penderitaan, kesengsaraan, kerinduan dan pengharapan manusia..
TANGGUNGJAWAB KRISTIANI BERSAMA
Sebagai bangsa yang religius dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah,  rakyat Indonesia belum dapat keluar dari belenggu kemiskinan yang membelitnya. Jumlah orang miskin bukannya berkurang, malah semakin bertambah dari waktu ke waktu (39,1 juta penduduk miskin). Kemelaratan, ketiadaan modal, penyakit, kebodohan, kemalasan, ketidakadilan dalam distribusi kekayaan,  kepemimpinan yang lemah, bencana alam, eksploitasi dan keyakinan mesianis yang palsu, telah menjadi faktor-faktor penyebab bertambahnya kemiskinan di negara kita.
Alkitab dengan tegas mencatat mereka yang disebut sebagai orang-orang miskin yang telah menjadi tujuan pembebasan Allah demi mempermuliakan namaNya. Bangsa Israel dilepaskan dari perbudakan dan penderitaan hidup agar mereka menikmati berkat-berkat Allah dan beribadah dengan rasa syukur.  Hukum Allah yang diterima Musa di gunung Sinai, menjadi  instrumen yang mengikat dan mengatur relasi Allah dengan umat sekaligus melidunginya dari ketidakadilan dan penderitaan.  Kritik para nabi  memperlihatkan bagaimana penyalahgunaan kekuasaan dan wewenang dari pejabat pemerintah, ulama dan  penegak hukum berakibat hukuman Allah.  Kepedulian Allah terhadap penderitaan kaum miskin tetap berlanjut.  Yesus pun datang memberitakan Kabar Baik bagi orang miskin  dan mendorong murid-muridNya untuk mengasihi mereka: “Karena orang-orang miskin selalu ada padaMu, dan kamu dapat menolong mereka bilamana kamu meng-hendakinya.” (Mrk. 14:7) Yesus tidak bermaksud meromantisir kemiskinan dalam khotbahNya di Bukit.  Kebahagiaan sebagai pengikut Tuhan Yesus bukan pada status ekonomi, tetapi pada sikap ketergantungan mutlak manusia  kepada Allah  menjalani dan menerima kehidupan dengan segala bentuk penderitaannya
Penderitaan dan kemiskinan, bagi Nababan bukanlah kehendak Allah bagi manusia, walaupun memang Yesus sendiri berada bersama orang-orang miskin. Identifikasi Yesus dengan orang miskin bukan berarti hidup miskin menjadi kebajikan yang berlaku umum bagi semua orang.  Kemiskinan harus diatasi dengan kerja keras dan bukannya terperangkap dalam fatalisme: dosa dalam diri manusia sebagai penyebab kemiskinan. Karenanya,  kemiskinan   harus ditanggulangi  agar manusia mendapatkan keadilan dan sekaligus  memperoleh  harkat dan martabatnya.
Pembebasan dan inkulturasi menurut Yewanggoe menjadi penting bagi Gereja agar kehadiran dan misinya dapat berarti bagi bangsa Asia yang religius dan miskin. Kontekstualisasi teologi yang tepat dan praxis yang membebaskan, menjadikan Gereja peduli dan terlibat aktif dalam usaha memerangi kemiskinan. Radikalisme atau dolorisme bukanlah sikap dan tindakan yang bertanggungjawab dan malahan  menjadikan Gereja  semakin menutup diri dalam benteng-benteng pertahanannya. Solidaritas terhadap sesama yang menderita dan kritik internal secara terus menerus,    menolong Gereja dengan rendah hati bekerjasama dengan umat beragama lain dalam menanggulangi kemiskinan  dan pada saat bersamaan menyampaikan kritik profetisnya tanpa pandang bulu. Menjadi Gereja Salib berarti  hidup dalam ketaatan kepada Allah yang menderita, serta peka dan peduli  terhadap penderitaan sesama.
Saya setuju dengan apa yang dikatakan Nababan bahwa kemiskinan yang mendatangkan penderitaan hidup,  bukanlah kehendak Allah yang berlaku secara umum bagi manusia. Kalaupun ada pribadi atau tarekat/kelompok tertentu yang memutuskan hidup miskin, semata-mata   ketaatan kepada panggilan Allah demi pengabdian pelayanan Injil.  Berbeda dengan Yewangoe, Nababan memberi perhatian kepada penting bekerja keras guna mencukupkan kebutuhan hidup. Tampaknya Nababan, mengajak orang Kristen untuk berpartisipasi aktif dalam pembangunan nasional di era Orde Baru sehinggga tidak pada tempatnya untuk mengatakan dosa sebagai penyebab kemiskinan. Dosa pemimpin dengan sistem pemerintahan yang feodalistik dan tabu terhadap kritik, menjadikan rakyat tidak mengerti  bagimana keroposnya perekonomian Indonesia saat dihantam krisis moneter.  Di sinilah Yewanggoe menolong kita untuk melakukan aksi dan  kontemplasi sehingga Gereja terlibat dalam praksis pembebasan. Jargon “stabilitas demi pembangunan nasional” telah menyebabkan Negara kita masuk dalam krisis multidimensi yang berkepanjangan dan menempatkan Indonesia sebagai negara terdepan di bidang korupsi.
Harapan Yewanggoe agar Gereja menjadi Gereja Salib, ternyata sukar dipraktekkan gereja-gereja di Indonesia baik kalangan Protestan, Katolik, Baptis, Pentakosta maupun Kharismatik.  Kebanyakan Gereja lebih sibuk mengurusi dirinya sendiri  ketimbang merepotkan diri pada  soal kemiskinan. Solidaritas Gereja lebih banyak bersifat karitatif pada momen tertentu di hari raya atau kegiatan sinodal/ekumenis.  Tidak ada satupun Gereja yang mencanangkan program penanggulangan kemiskinan secara sistematis dengan anggaran milyaran rupiah.  Gereja sepertinya menjadi “kuatir” bahwa usaha-usaha penanggulangan kemiskinan dicurigai oleh kelompok tertentu  bertujuan kristenisasi yang berakibat pada tindakan destruktif seperti pembakaran gedung Gereja,  penyegelan gedung Gereja atau teror bom.
Dalam kaitan itu, saya mengusulkan pentingnya Gereja membuka diri untuk berdialog dan bekerja sama dengan umat beragama lain dan pemerintah untuk menyamakan visi dan misi sehingga kehadiran Gereja  benar-benar bertujuan menghargai harkat dan martabat manusia tanpa membeda-bedakan latar belakang suku, agama, ras dan golongan (sara). Gereja sendiri perlu mendidik warganya agar kehidupan doa berimbang dengan kehidupan kerja (ora et labora).  Berkat Allah diberikan saat manusia berusaha dengan sungguh-sungguh dan mempergunakan berkat yang ada demi kemuliaan Allah lewat pelayanan kepada sesama. Ucapan Yesus mendorong kita untuk bertindak  segera : “Karena orang-orang miskin selalu ada padaMu, dan kamu dapat menolong mereka bilamana kamu menghendakinya.” (Mrk. 14:7)

—————SGRS2008——————–

DAFTAR PUSTAKA
1. Buku-buku

Banawiratma, J.B.  (ed), Aspek-aspek Teologi Sosial, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1990.

Banawiratma, J. B.  dan Muller, J. Berteologi Sosial Lintas Ilmu: Kemiskinan sebagai Tantangan Hidup Beriman, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1993.

Ferguson, Sinclair B.  &  Wright, David F,   New Dictionary of Theology, England:  Inter-Varsity Press, 1988.

Guiterrez, Gustavo,    A Theology of Liberation,  New York: Orbis Books, 1973.

De Heer, J.J.  Tafsiran Alkitab: Injil Matius 1-22, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001.

Nababan, S.A.E.,  Realisme yang     Berpengharapan. Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1988.

Yewangoe, A.A.,   Theologia Crucis di Asia: Pandangan-pandangan orang Kristen Asia mengenai penderitaan dalam kemiskinan dan keberagamaan di Asia. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1989.

2. Surat kabar
Kompas, 19 Februari     2007.

3. Situs Internet
www.bps.go.id/releases/files/kemiskinan-01sep06.pdf